Green Campus

Posted by on Dec 11, 2015 in Berita, slide

Green Campus

Oleh Drs. M. Ilham M. Si Kampus hijau, alias green campus, telah sejak lama menjadi dambaan seluruh warga civitas academica di seluruh dunia. Kampus semacam ini hanya bisa diwujudkan oleh para pimpinan yang berkualitas. Dengan kata lain, kualitas para pimpinan sebuah perguruan tinggi dapat dinilaidaripohon-pohon apa saja yang ditanam di hamparan ruang-ruang kosong kampus yang dipimpinnya. Apakah para pimpinan tersebutterdiri atas orang-orang cerdas yang peduli masa depan, para manajer handal, orang-orang serampangan yang tidak memiliki future orientation, ataukah para snobbish (orang-orang genit yang tidak paham apapun kecuali pada hal-hal yang dangkal)? Sungguh tidak berdasar jikasebuah kampuslebih memilih menanam pohon “murah-meriah” (misalnya akasia), atau pohon “lucu” (misalnya pohon glodokan, yang sekarang banyak ditanam di berbagai kota—termasuk di kota Jember, yang bentuknya meruncing tinggi tidak berdahan).Secara fisik, pohon-pohon tersebut tidak kontekstual, dan karenanya tidak indah. Akasia lebih cocok untuk area luar kota, dan glodokantidak berkarakter tropis. Secara sosial, pohon akasia tidak mencerminkan sempurnanya keteduhan. Terlebih si pohon runcing glodokan itu, dalam hal keteduhan dan konservasi boleh dibilang antisosial!  Secara ekonomi, pohon-pohon itu tidak memberi inspirasi produktif. Nenek moyang kita lebih suka menanam mahoni, yang memiliki kualitas kayu handal dan buahnya bisa untuk obat, atau pohon asam, yang daun mudanya bisa digunakan untuk jamu sinom dan manfaat buahnya tidak bisa diragukan lagi. Apakah pohon-pohon yang ditanam di Unej sudah mencerminkanblue print tatakelola kampusvyang berkualitas bagi civitas academica-nya, yang berorientasi pada citizen...

Read More »

Vicky Prasetyo Mengobrak-abrik Kaidah Bahasa

Posted by on May 12, 2015 in Dosen, Journal, Publikasi

Vicky Prasetyo Mengobrak-abrik Kaidah Bahasa

oleh Hairus Salikin Ahir-ahir ini banyak orang membicarakan nama Vicky Prasetyo (VP), mantan tunangan penyanyi dangdut,  Zaskia Gotik, yang telah menghebohkan  dunia maya karena VP menggunakan hahasa yang  tidak sesuai dengan kaidah bahasa yang digunakan. Dia mengejutkan banyak orang, baik bagi yang tidak memahami kaidah kaidah bahasa apalagi mereka  yang menaruh perhatian khusus  terhadap kaidah kaidah bahasa. Di satu sisi penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang keluar dari kaidah dan tidak sesuai kontek sangat menngganggu komunikasi. Namun di lain pihak, keadaan tersebut justru membuat VP banyak dikenal orang. Saking terkenalnya sampai sampai ada istilah (terlepas ini dapat diterima atau tidak) Vickynisasi yaitu berkomunikasi dengan mencampuradukkan kata kata dari Bahasa Indonesia dan Inggris. Berikut adalah cuplikan gaya bahasa VP yang dapat dilihat di dunia maya ketika diwawancarai saat bertunangan dengan Zaskia Gotik, seorang  penyanyi dangdut. “Di usiaku saat ini, twenty nine my age, aku masih tetap merindukan apresiasi. Karena, basically, aku senang musik, walaupun kontrovesi hati aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran, Ya”. “Dengan adanya hubungan ini bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga kita, tetapi menjadi confident”. Memang banyak pihak yang menyayangkan  cara VP berbicara seperti cuplikan di atas bahkan di dunia maya banyak yang mencemoohnya sebagai tindakan yang tidak benar dan ngawur. Tetapi semua telah terjadi dan tidak ada gunanya menyalahkan orang. Di sekitar kita  masih banyak VP yang lain seperti misalnya artis, politisi serta anak anak muda yang masih labil mencari jadi diri. Mereka sering berbicara dengan menggunakan istilah istilah yang mungkin  tidak mereka pahami, baik maksud maupun dampak dari pengunaan istilah tersebut. Satu contoh saja, sekitar satu dua tahun yang lalu kita demam dengan kata “sesuatu banget”, yang diucapkan awalnya oleh salah seorang artis. Saya yakin kalau artis tersebut ditanya apa maksudnya, dia akan kebingungan menjawabnya karena dalam kaidah Bahasa Indonesia kata itu tidak tepat. Tetapi toh banyak orang  latah menirukan hal tersebut , walaupun sekarang sudah lenyap entah kemana. Dibanding kita mencemooh dan menyalahkan VP, yang menarik untuk direnungkan adalah kemungkinan-kemungkinan mengapa orang  berbahasa seperti itu. Pertama, dia mungkin ingin terkesan  keren dan intelek dengan menggabungkan Bahasa Inggris dan Indonesia. Kedua, mungkin orang tersebut memang tidak mengerti sama sekali makna istilah istilah yang dipakainya. Ketiga, dia sengaja mencari sensasi dan dia telah paham betul akan akibat dari bahasa yang dia pakai. Kemunginan pertama adalah VP ingin terkesan keren dengan memakai istilah istilah yang dicampur  antara Bahasa Inggris dengan Bahasa Indonesia. Hal seperti ini bukan hanya dilakukan oleh VP, banyak orang melakukannya walaupun tidak sesemerawut gaya bahasa VP. Lihat kejadian sehari hari,  sering kita dengar dalam pidato pidato seseorang menyelipkan istilah istilah rumit yang sebenarnya dapat diganti dengan istilah baku dalam bahasa yang digunakan, misalnya “ desiminasi” “kolaborasi” “event” “meng-up date”, “men-download”,” meng-upload”, “police-line”, “susuatu banget”,)  dan masih banyak lagi istilah yang sering dipakai orang  agar terkesan lebih keren dan terlihat hebat. Celakanya istilah istilah tersebut sering tidak dipahami bukan hanya oleh pendengar atau pembaca,...

Read More »