Vicky Prasetyo Mengobrak-abrik Kaidah Bahasa

Posted by on May 12, 2015 in Dosen, Journal, Publikasi

Vicky Prasetyo Mengobrak-abrik Kaidah Bahasa

oleh Hairus Salikin Ahir-ahir ini banyak orang membicarakan nama Vicky Prasetyo (VP), mantan tunangan penyanyi dangdut,  Zaskia Gotik, yang telah menghebohkan  dunia maya karena VP menggunakan hahasa yang  tidak sesuai dengan kaidah bahasa yang digunakan. Dia mengejutkan banyak orang, baik bagi yang tidak memahami kaidah kaidah bahasa apalagi mereka  yang menaruh perhatian khusus  terhadap kaidah kaidah bahasa. Di satu sisi penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang keluar dari kaidah dan tidak sesuai kontek sangat menngganggu komunikasi. Namun di lain pihak, keadaan tersebut justru membuat VP banyak dikenal orang. Saking terkenalnya sampai sampai ada istilah (terlepas ini dapat diterima atau tidak) Vickynisasi yaitu berkomunikasi dengan mencampuradukkan kata kata dari Bahasa Indonesia dan Inggris. Berikut adalah cuplikan gaya bahasa VP yang dapat dilihat di dunia maya ketika diwawancarai saat bertunangan dengan Zaskia Gotik, seorang  penyanyi dangdut. “Di usiaku saat ini, twenty nine my age, aku masih tetap merindukan apresiasi. Karena, basically, aku senang musik, walaupun kontrovesi hati aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran, Ya”. “Dengan adanya hubungan ini bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga kita, tetapi menjadi confident”. Memang banyak pihak yang menyayangkan  cara VP berbicara seperti cuplikan di atas bahkan di dunia maya banyak yang mencemoohnya sebagai tindakan yang tidak benar dan ngawur. Tetapi semua telah terjadi dan tidak ada gunanya menyalahkan orang. Di sekitar kita  masih banyak VP yang lain seperti misalnya artis, politisi serta anak anak muda yang masih labil mencari jadi diri. Mereka sering berbicara dengan menggunakan istilah istilah yang mungkin  tidak mereka pahami, baik maksud maupun dampak dari pengunaan istilah tersebut. Satu contoh saja, sekitar satu dua tahun yang lalu kita demam dengan kata “sesuatu banget”, yang diucapkan awalnya oleh salah seorang artis. Saya yakin kalau artis tersebut ditanya apa maksudnya, dia akan kebingungan menjawabnya karena dalam kaidah Bahasa Indonesia kata itu tidak tepat. Tetapi toh banyak orang  latah menirukan hal tersebut , walaupun sekarang sudah lenyap entah kemana. Dibanding kita mencemooh dan menyalahkan VP, yang menarik untuk direnungkan adalah kemungkinan-kemungkinan mengapa orang  berbahasa seperti itu. Pertama, dia mungkin ingin terkesan  keren dan intelek dengan menggabungkan Bahasa Inggris dan Indonesia. Kedua, mungkin orang tersebut memang tidak mengerti sama sekali makna istilah istilah yang dipakainya. Ketiga, dia sengaja mencari sensasi dan dia telah paham betul akan akibat dari bahasa yang dia pakai. Kemunginan pertama adalah VP ingin terkesan keren dengan memakai istilah istilah yang dicampur  antara Bahasa Inggris dengan Bahasa Indonesia. Hal seperti ini bukan hanya dilakukan oleh VP, banyak orang melakukannya walaupun tidak sesemerawut gaya bahasa VP. Lihat kejadian sehari hari,  sering kita dengar dalam pidato pidato seseorang menyelipkan istilah istilah rumit yang sebenarnya dapat diganti dengan istilah baku dalam bahasa yang digunakan, misalnya “ desiminasi” “kolaborasi” “event” “meng-up date”, “men-download”,” meng-upload”, “police-line”, “susuatu banget”,)  dan masih banyak lagi istilah yang sering dipakai orang  agar terkesan lebih keren dan terlihat hebat. Celakanya istilah istilah tersebut sering tidak dipahami bukan hanya oleh pendengar atau pembaca,...

Read More »

MENGHARAP OLEH-OLEH DARI TANAH SUCI

Posted by on May 12, 2015 in Dosen, Journal, Publikasi

MENGHARAP OLEH-OLEH DARI TANAH SUCI

oleh : Hairus Salikin Allah menetapkan bahwa setiap manusia yang secara normatif mengaku beragama Islam punya kewajiban untuk menunaikan Ibadah Haji (QS. 3:97) dengan catatan memenuhi beberapa persyaratan diantaranya memiliki kemampuan maliyah (harta) dan jasmaniah. Kemampuan maliyah maksudnya adalah kemampuan untuk ongkos pulang pergi ke tanah suci serta bekal selama perjalanan dan bekal keluarga yang ditinggalkan. Islam tidak menghendaki seseorang pergi haji sementara keluarga yang ditinggalkan ekonominya terganggu. Dan yang dimaksud mampu jasmaniah adalah memiliki kesehatan anggota tubuh yang dapat diterima sebagaimana syarat yang telah ditentukan. Sebagai ibadah Mahdhah (Ibadah Ritual), ketika seseorang yang berhaji memenuhi ketentuan-ketentuan yang disyaratkan oleh agama, maka orang tersebut akan menjadi haji mabrur dan tiada balasan bagi haji mabrur kecuali syorga (hadist). Kita semua berharap semoga para jamaah haji dijadikan oleh Allah haji mabrur dan membawa oleh-oleh yang bermafaat bagi diri, keluarga serta masyarakat dimana mereka tinggal. Sejak tanggal 16 sampai degan 18 November 2013 Jember akan kedatangan sekitar dua ribu lebihjamaah haji yang baru pulang dari tanah suci. Selama ini ada kebiasaan di sekitar kita yaitu para jamaah haji sering memberikan oleh oleh kepada para tamu yang menyambut kedatangan mereka.Oleh-oleh yang diberikan biasanya berupa tasbih, sajadah, sorban dan lain sebagainya yang kebanyakan dibelinya di tanah air. Keadaan ini ya sah-sah saja sebagai bentuk hadiah atau tanda berbagi kebahagiaan karena Allah telah memberi kesempatan pada mereka untuk menunaikan rukun Islam yang ke lima. Tetapi sejatinya ada dua oleh-oleh yang harus dipersembahkan kepada keluarga serta masyarakat oleh para tamu Allah yang baru pulang dari tanah suci dan berpredikat haji mabrur. Dua oleh-oleh tersebut adalah perbaikan kualitas hubungan dengan Allah (hablun min Allah)dan perbaikan kualitas hubungan terhadapsesama manusia (hablun minannas). Dua oleh oleh itu yang seharusnya disajikan oleh mereka yang berpredikat haji mabrur.Andai mereka bisa membawa dua oleh-oleh tersebut, maka di Kabupaten Jember ini akan ada sekitar dua ribu lebihorang yang menjadi contoh bertambah baiknya kualitas hubungan dengan Allah dan kualitas hubungan terhadap sesama manusia, Insya Allah. Oleh oleh yang pertama adalah bertambah baiknya kualitas hubungan mereka dengan Allah. Dalam hal ini haji mabrur harus mampu memperbaiki kualitas hubungannya dengan Allah, Tuhan Yang Maha Agung. Kualitas ibadah ritual mereka paling tidak secara fisik dapat kita lihat bertambah baik. Kalau dulu shalatnya hanya yang penting kewajiban tanggal, setelah berhaji shalat mereka bukan hanya merupakan kewajiban tetapi sudah menjadi kebutuhan seperti kebutuhan akan makan dan minum. Mereka selalu menunggu saat-saat untuk shalat guna menghadap Allah. Yang dulu jarang shalat berjamaah sekarang menjadi rajin berjamaah. Haji mabrur seharusnya lebih rajin datang ke masjid dibanding dengan sebelum melaksanakan ibadah haji. Kalau sebelum berhaji shalat malam hanya sekali-kali, setelah pulang dari tanah suci selalu bangun di sepertiga malam dan menghadap Allah dengan khsuyuknya. Puasa sunnah mereka lebih baik dibanding sebelum berhaji. Kalau dulu tidak paham atas bacaan shalat dan dzikir yang mereka lakukan, sekarang mereka paham makna bacaan-bacaan itu dan mereka melaksanakan isi bacaan tersebut. Andaikata sebelum berhaji harta yang yang...

Read More »